Taman Nasional Ujung Kulon merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat, serta merupakan habitat yang ideal bagi kelangsungan hidup satwa langka badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya. Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan.
Keanekaragaman tumbuhan dan satwa di Taman Nasional Ujung Kulon mulai dikenal oleh para peneliti, pakar botani Belanda dan Inggris sejak tahun 1820.
Kurang lebih 700 jenis tumbuhan terlindungi dengan baik dan 57 jenis diantaranya langka seperti; merbau (Intsia bijuga), palahlar (Dipterocarpus haseltii), bungur (Lagerstroemia speciosa), cerlang (Pterospermum diversifolium), ki hujan (Engelhardia serrata)dan berbagai macam jenis anggrek.
Satwa di Taman Nasional Ujung Kulon terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amfibia, 240 jenis burung, 72 jenis insekta, 142 jenis ikan dan 33 jenis terumbu karang. Satwa langka dan dilindungi selain badak Jawa adalah banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), surili (Presbytis comata comata), lutung (Trachypithecus auratus auratus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus), kucing batu (Prionailurus bengalensis javanensis), owa (Hylobates moloch), dan kima raksasa (Tridacna gigas).
Taman Nasional Ujung Kulon merupakan obyek wisata alam yang menarik, dengan keindahan berbagai bentuk gejala dan keunikan alam berupa sungai-sungai dengan jeramnya, air terjun, pantai pasir putih, sumber air panas, taman laut dan peninggalan budaya/sejarah (Arca Ganesha, di Gunung Raksa Pulau Panaitan). Kesemuanya merupakan pesona alam yang sangat menarik untuk dikunjungi dan sulit ditemukan di tempat lain.
Jenis-jenis ikan yang menarik di Taman Nasional Ujung Kulon baik yang hidup di perairan laut maupun sungai antara lain ikan kupu-kupu, badut, bidadari, singa, kakatua, glodok dan sumpit. Ikan glodok dan ikan sumpit adalah dua jenis ikan yang sangat aneh dan unik yaitu ikan glodok memiliki kemampuan memanjat akar pohon bakau, sedangkan ikan sumpit memiliki kemampuan menyemprot air ke atas permukaan setinggi lebih dari satu meter untuk menembak memangsanya (serangga kecil) yang berada di i daun-daun yang rantingnya menjulur di atas permukaan air.
Dermaga di Pulau Peucang
Rusa (Cervus timorensis)
Taman Nasional Ujung Kulon bersama Cagar Alam Krakatau merupakan asset nasional, dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991.
Untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Alam Dunia, UNESCO telah memberikan dukungan pendanaan dan bantuan teknis.
Masyarakat yang bermukim di sekitar taman nasional yaitu suku Banten yang terkenal dengan kesenian debusnya. Masyarakat tersebut pengikut agama Islam, namun mereka masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan, tradisi, dan kebudayaan nenek moyang mereka.
Di dalam taman nasional, ada tempat-tempat yang dikeramatkan bagi kepentingan kepercayaan spiritual. Tempat yang paling terkenal sebagai tujuan ziarah adalah gua Sanghiang Sirah, yang terletak di ujung Barat semenanjung Ujung Kulon.
Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Tamanjaya dan Cibiuk. Pintu masuk utama dengan fasilitas, pusat informasi, wisma tamu, dermaga, sumber air panas.
Pantai Kalejetan, Karang Ranjang, Cibandawoh. Fenomena gelombang laut selatan dan pantai berpasir tebal, pengamatan tumbuhan dan satwa.
Pulau Peucang. Pantai pasir putih, terumbu karang, perairan laut yang biru jernih yang sangat ideal untuk kegiatan berenang, menyelam, memancing, snorkeling dan tempat ideal bagi pengamatan satwa satwa rusa di habitat alamnya.
Karang Copong, Citerjun, Cidaon, Ciujungkulon, Cibunar, Tanjung Layar, dan Ciramea. Menjelajahi hutan, menyelusuri sungai, padang pengembalaan satwa, air terjun dan tempat peneluran penyu.
Pulau Handeuleum, Cigenter, Cihandeuleum. Pengamatan satwa (banteng, babi hutan, rusa, jejak-jejak badak Jawa dan berbagai macam jenis burung), menyelusuri sungai di ekosistem hutan mangrove.
Pulau Panaitan, dan Gunung Raksa. Menyelam, berselancar, dan wisata budaya/ sejarah.
Musim kunjungan terbaik: bulan April s/d September.
Cara pencapaian lokasi:
Jakarta - Serang (1 1/2 jam via jalan Tol), Serang - Pandeglang - Labuan (1 1/2 jam) atau Jakarta - Cilegon (2 jam via jalan Tol), Cilegon - Labuan (1 jam) atau Bogor - Rangkasbitung - Pandeglang - Labuan (4 jam).
Labuan - Sumur (2 jam), Sumur - Pulau Peucang (1 jam dengan kapal motor nelayan) atau Labuan - Pulau Peucang (4 jam dengan kapal motor nelayan).
MADU UJUNG KULON
Madu odeng atau madu lebah liar adalah salah satu hasil hutan yang bernilai ekonomis tinggi bagi masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Ujungkulon.
Harga madu hutan murni cukup mahal di pasaran karena selain rasanya yang khas madu hutan juga dipercaya berkhasiat bagi kesehatan. Musim panen madu hutan yang dilakukan pada musim kemarau menjadikan berburu madu sebagai sumber mata pencaharian alternatif bagi sebagian masyarakat yang tinggal di sekitar hutan Ujungkulon.
Apakah pengeksploitasian madu lebah di Ujungkulon telah menimbulkan kerusakan yang mengancam kelestarian ekosistem di kawasan Taman Nasional Ujungkulon?
Mari kita simak tulisan seorang aktifis PHMN, kang Eman Sulaeman, berikut ini:
Paradigma Pengelolaan Hutan: Percayakan pengelolaan hutan pada Rakyat !
Jauh sebelum Negara mengelola hutan - baik hutan produksi maupun konservasi - , masyarakat lokal / adat telah lebih dahulu cakap dalam mengelola hutan untuk keseimbangan alam hidup masyarakatnya. Paradigma pengelolaan hutan berbasis masyarakat lokal / adat jelas harus menjadi bagian dari partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan untuk kepentingan bersama. D a n, Pemerintah harus berupaya melaksanakan tugas konservasi dengan menggunakan paradigma pengelolaan hutan berbasis masyarakat lokal / adat.
Seperti yang khalayak ketahui, kondisi hutan di negeri kita telah banyak yang kondisinya rusak. Penyebab terbesarnya adalah karena adanya over eksplorasi sumber daya hutan untuk memenuhi kebutuhan industri, konversi lahan hutan menjadi pertambangan, perkebunan, atau objek transmigrasi, kebakaran hutan serta timber ekstraksion dan illegal logging. Beberapa faktor penyebab kerusakan hutan tersebut yang terbesar adalah karena lemahnya penegakan hukum dengan longgarnya pemberian konsesi pengusahaan sumber daya hutan yang tidak terkontrol, korupsi aparatur negara dan kebijakan-kebijakan yang tumpang-tindih dengan memberikan kemudahan bagi pengusaha besar. Maka menjadi tidak heran ketika Dephutbun (2000) mengumumkan laju degradasi hutan di Indonesia mencapai rata-rata 1-1,5 juta Ha yang mengancam seluruh tipe habitat hutan.
Sekali lagi, jauh sebelum negara ini berdiri dan membuat perundang-undangan mengenai pengelolaan hutan, masyarakat lokal sekitar hutan telah lebih dahulu memiliki sistem keyakinan lokal yang sangat ramah lingkungan. Ikatan kesejarahan masyarakat sekitar hutan, telah menciptakan suatu sistem ketergantungan antara kehidupannya dengan sumber daya hutan, menjaga dan merawat hutan bagi masyarakat lokal merupakan kewajiban yang diatur dalam norma sosial mereka. Setidaknya hal tersebut masih terawat pula didalam kehidupan masyarakat Ujung Kulon.
Ngala odeng, meulakan leuweung kolot (mengambil madu, menanami hutan)
Ketergantungan masyarakat Ujung Kulon terhadap sumber daya hutan telah menjadi kesatuan yang utuh dari sistem sosio-ekologi masyarakat. Pengambilan madu di wilayah hutan Ujung Kulon telah berlangsung lama secara turun-temurun untuk menambah penghasilan keluarga disaat tidak mengelola lahan pertaniannya. Pertanian di Ujung Kulon hanya bisa dikelola dikala musim penghujan, sedangkan madu hutan mulai dapat dipanen disaat musim kemarau.
Melalui pendampingan dari PHMN, masyarakat Ujung Kulon yang biasa mengambil madu di hutan mendapat pengetahun pola panen lestari madu hutan dan memperluas jejaring pemasaran. Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) sebagai lembaga jaringan nasional kelompok masyarakat pengelola madu hutan, telah banyak memberikan andil besar dalam peningkatan kapasitas kelompok madu hutan di Ujung Kulon.
Pola panen lestari madu hutan, merupakan bentuk dari gerakan konservasi hutan yang bersumber atas inisiatif rakyat. Kelompok madu hutan Ujung Kulon, saat ini memiliki aturan kelompok, dimana setiap melakukan pemanenan madu hutan diharuskan untuk melakukan penanaman tanaman nectar madu dan tanaman tempat sarang lebah. Pola pemanenan pun dirubah untuk melindungi keberlangsungan koloni lebah madu hutan jenis Apis Dorsata atau dengan nama lokal Odeng, dengan cara tidak mengambil anakan lebah dan menyisakan sedikit bagian madu untuk makanan anakan lebah, sehingga koloni lebah diharapkan dapat terus bertambah tingkat populasinya, mengingat populasi lebah jenis Apis Dorsata di dunia ini terus menurun.
Melalui pengelolaan madu hutan ini, masyarakat Ujung Kulon diharapkan akan dapat menunjukkan partisipasi konkritnya pada perlindungan kawasan hutan Taman Nasional Ujung Kulon, memberikan udara segar bagi umat dunia...Amin
Taman Nasional Ujung Kulon terletak di bagian paling barat Pulau Jawa, Indonesia. Kawasan Taman nasional ini juga memasukan wilayah Krakatau dan beberapa pulau kecil disekitarnya seperti Pulau Handeuleum dan Pulau Peucang. Taman ini mempunyai luas sekitar 1,206 km² (443 km² diantaranya adalah laut), yang dimulai dari tanjung Ujung Kulon sampai dengan Samudera Hindia.
Taman Nasional ini menjadi Taman Nasional pertama yang diresmikan di Indonesia, dan juga sudah diresmikan sebagai salah satu Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada tahun 1992, karena wilayahnya mencakupi hutan lindung yang sangat luas. Sampai saat ini kurang lebih 50 sampai dengan 60 badak hidup di habitat ini.
Pada awalnya Ujung Kulon adalah daerah pertanian pada beberapa masa sampai akhirnya hancur lebur dan habis seluruh penduduknya ketika Gunung Krakatau meletus pada tanggal 27 Agustus 1883 yang akhirnya mengubahnya kawasan ini kembali menjadi hutan.
Izin untuk masuk ke Taman Nasional ini dapat diperoleh di Kantor Pusat Taman Nasional di Kota Labuan atau Tamanjaya. Penginapan dapat diperoleh di Pulau Handeuleum dan Peucang.
CERITA SEDIKIT..................
Badak Bercula Satu, Lebih Mirip Mitos
Suasana di Pulau Peucang sangat sepi. Tidak terdengar suara apapun selain suara deburan ombak dan bunyi binatang-binatang di hutan. Lokasi Pulau Peucang memang sangat terisolasi, jauh dari keramaian. Tidak ada jalan ataupun perkampungan penduduk. Kota Sumur adalah pemukiman terdekat yang bisa dicapai melalului laut. Sementara jika kita melewati jalan darat, kita baru bisa menemukan pemukiman penduduk dalam waktu dua hari perjalanan. Sarana komunikasipun sangat minim. Tak ada tower base transceiver station, yang ada hanya sebuah tower setinggi 20 meter dengan beberapa antenna televisi. Sarana komunikasi yang tersedia hanya radio frekuensi, tapi itupun hanya dapat digunakan dalam radius skala kilometer. Jika kita kangen dengan Ibu kita di rumah, maka kita bisa menggunakan telepon satellite, tapi kita harus merogoh kocek 20 ribu untuk setiap menitnya.
Tak banyak orang yang tinggal di Pulau ini. Di Pulau ini sendiri hanya ada sekretariat Taman Nasional Pulau Peucang, beberapa barak untuk ditinggali, sebuah ruangan generator set, dan kantin yang kelihatan tidak pernah dipakai lagi. Semua bangunan di sini didesain sebagai rumah panggung. Hal ini untuk melindungi orang yang tinggal di dalamanya dari hewan-hewan liar. Pulau Peucang memang masih sangat perawan. Tak jarang kami menemukan hewan-hewan liar berkeliaran di sekitar tempat kami menginap. Beberapa hewan yang sering mampir ke tempat kami menginap antara lain biawak (panjangnya kira-kira dua meter), babi hutan, makakus (sejenis monyet), dan rusa. Sesekali tampak burung elang terbang dengan sayapnya yang lebar. Kami tinggal bersama dan tidak mengganggu satu sama lainnya.
Kami tinggal dalam sebuah barak berukuran 8 x 5 meter. Sebenarnya ada barak dengan ukuran lebih besar, tapi tentu harganyapun juga besar. Lagi-lagi efisiensi biaya adalah alasan kami memilih barak dengan ukuran yang kecil. Untuk barak sekecil ini saja kita harus membayar 150 ribu perharinya. Dalam barak tersebut hanya ada lima buah kasur berukuran besar. Kasur tersebut kami bagi untuk dipakai ber 13. Cewe satu kasur, sementara sisanya disatukan dan dipakai bersama oleh cowo. Saya sendiri memilih untuk tidur dalam sleeping bag. Kamar mandi yang tersedia pun tidak banyak. Untuk empat buah barak sebesar 8 x 5 meter hanya tersedia 2 buah kamar mandi. Tapi kami cukup beruntung karena saat itu hanya kami yang menginap di sana, jadi kami tidak terlalu kesulitan untuk ke kamar mandi.
Setelah deployed barang di barak kami memutuskan untuk langsung nyebur. Kami hanya melakukan skin dive. Awalnya kami juga ingin sekalian SCUBA dive, tetapi tidak jadi karena ternyata kita harus membawa sendiri semua perlengkapan SCUBA termasuk tabung, terlalu merepotkan. Air laut di pantai pulau ini sangat jernih. Jarak pandang sekitar 15 meter. Tapi sayang, hari itu arusnya sangat kuat. Jika kita diam didalam air, maka kita bisa terseret dengan kecepatan 0,5 meter per detik. Belum lagi ditambah sengatan ubur-ubur yang membuat kulit menjadi merah-merah. Jadi hari itu kami putuskan untuk bermain-main air saja disekitar dermaga.
Tidak terasa matahari sudah diatas ubun-ubun. Perut kami pun terasa lapar. Akhirnya kami putuskan untuk makan siang. Di Pulau ini sama sekali tidak ada orang berjualan apa-apa, apalagi berjualan makanan. Kantin yang ada saja sudah lama dikunci dan tidak pernah dipakai lagi. Untuk bertahan hidup di Pulau Peucang, kami harus membawa semua kebutuhan kami dari Sumur. Kami membawa telur 3 kg, ikan tongkol 40 ekor, beras 20 liter, aqua 3 galon, minyak goreng 2 kg, minyak tanah15 liter, satu botol kecap dan satu botol sambel. Semua hajat hidup kami tersebut kami letakkan di kapal nelayan yang kami sewa dari Pak Matang. Di kapal tersebut ada satu orang nakhoda dan dua orang anak buah kapal. Merekalah yang mengurusi kami selama di Pulau Peucang, termasuk memasak nasi dan menggoreng ikan dan telor. Untuk semua itu kami membayar 2, 5 juta untuk 2 hari tiga malam kepada Pak Matang.
Agenda sore hari adalah jalan-jalan ke sabana untuk melihat Banteng, rusa dan kalau beruntung melihat badak bercula satu. Untuk mencapai sabana tersebut kami harus menyebrang ke Pulau Jawa. Kalau dilihat di peta, kami benar-beran berada di ujung semenanjung Ujung Kulon. Di pulau jawa hanya ada satu dermaga dan satu pos penjaga yang kosong. Untuk pergi kesana, kami ditemani oleh Pak Tumina. Seorang penjaga taman nasional yang telah mengabdi selama 10 tahun.
Di Pulau Jawa, kami berjalan menyusuri hutan. Nyamuk hutan pasti sangat senang saat itu, karena ada 13 orang bodoh yang masuk hutan dengan pakaian pantai dan sama sekali tidak menggunakan autan, soffel, atau obat nyamuk lainnya. Selama perjalanan Pak Tumina bayak memberikan informasi kepada kami baik tentang tumbuhan ataupun tentang hewan. Kata Beliau di hutan ini hewan-hewan yang ada antara lain, rusa, biawak, babi hutan, makakus, banteng, burung merak, macan kumbang dan tentunnya badan berucula satu.
Seperti rombongan-rombongan wisatawan lainnya, saat itu kami tidak bertemu badak bercula satu. Hewan ini sepertinya lebih mirip mitos ketimbang seekor hewan yang dilindungi. Orang-orang banyak membincangkannya, akan tetapi sangat jarang sekali yang melihatnya. Pak Tumina saja yang sudah 10 tahun bekerja di sini belum tentu bisa melihat badak ini dalam waktu sekali dalam setahun. Banyak LSM-LSM yang menginap berbulan-bulan di hutan hanya untuk melihat badak, tapi itu pun belum tentu bisa terlihat. Pernah dalam acara televisi Jejak Petualangan, di perlihatkan bahwa untuk mendapatkan foto badak harus dengan menggunakan motion sensor yang diletakkan berhari-hari di dalam hutan.
Padahal menurut Pak Matang, jumlah badak di sini masih sekita 40 samapai 50 ekor lagi. Angka tersebut ditapat dari sensus badak yang dilakukan setahun yang lalu. Ternyata untuk melakukan sensusnya saja, kita juga belum tentu bisa bertemnu badak. Sensus dilakukan dengan transect terhadap jejak kaki badak. Transect dilakukan di beberapa lokasi sampel dan kemudian hasilnya dibandingkan. Setelah data diolah dengan berbagai perhitungan probabilitas dan statistik maka diperolehlah angka 40 hingga 50 ekor. Penyebab langkanya badak adalah karena mereka hidup soliter. Sangat kecil kemungkinan badak jantan dan betina akan bertemu. Hal ini adalah salah satu faktor sedikitnya populasi badak. Belum lagi masa kehamilan yang relatif lama.
Setelah 20 menit berjalan kaki, akhirnya kami tiba di sabana. Sabana tersebut tidak begitu luas dibandingkan denga yang ada di Nusa Tenggara. Mungkin luasnnya maksimal 10 hektar. Disana hanya ada satu saung dan satu menara pandang yang lagi-lagi kosong. Dari kejauhan kami melihat belasan ekor banteng sedang mencari makan di sabana. Banteng jantan tampak berbeda dari yang lainnya, berwarna hitam, tubuhnya lebih besar, tanduknya pun panjang, gagah sekali. Disana kami mengambil beberapa foto banteng. Akan tetapi sangat disayangkan, mengingat kebanyakan kami dibesarkan di kota, maka kami tidak mengerti sopan santun di alam liar. Kami (baca : saya) mendekat ke arah banteng, dan dengan seenaknya teriak-teriak. Tentu saja akhirnya banteng-bangteng tersebut menyadari kehadiran kami disana. Dan tak berapa lama kemudian mereka semua kabur ke hutan. Setelah metreka kabur, dengan seenaknya kami malah duduk-duduk di padang sabana dan bercerita 17 tahun keatas sambil berteriak-teriak dan tertawa-tawa. Benar-benar tidak punya sopan santun dan rasa empati terhadap banteng.
Setelah puas melihat-lihat di sabana, kami pun pulang. Kami pulang lewat jalur berbeda dengan sewaktu kami datang. Sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk menikmati sunset di pantai Pulau Jawa. Matahari tampak begitu kuning di ujung barat sana. Kami pun menyempatkan diri untuk berfoto-foto. Sekitar pukul 18.00 kami pulang kembali ke Pulau Peucang.
Hari sudah mulai gelap ketika kapal kami merapat ke dermaga di Pulau Peucang. Pulau Peucang pun tampak sangat sepi dan gelap. Listrik yang tersedia di Pulau Peucang sangat terbatas. Listrik di pulau ini hanya di pasok oleh generator set dan beberapa panel surya. Siang hari listrik dimatikan. Jika malam hari tiba, generator dinyalakan. Listrik yang dihasilkan oleh generator juga tidak begitu besar, mungkin hanya beberapa ribu watt, cukup kecil untuk menghidupkan sebuah pulau. Di barak kami sendiri hanya ada sebuah lampu kuning redup yang cahaya sangat tidak cukup untuk menerangi ruangan berukuran 8 x 5 meter. Mata kita akan terasa sakit jika membaca di dalamnya. Di barak kami pun sama sekali tidak ada stop kontak (colokan ke jala-jala). Jika ingin meng-charge handphone atau baterai kamera, kita harus pergi ke ruang sekretariat taman nasional. Tidak ada sama sekali lampu di luar ruangan. Untuk berjalan ke kamar mandi yang jaraknya sekita 10 meter dari barak, kami harus membawa lampu minyak tanah atau senter.
Malam itu seperti biasa menu makan kami adalah telur mata sapi dan ikan tongkol goreng. Seperti biasa juga kami makan di atas kapal nelayan Pak Matang. Yah inilah kapal pesiar kami selama di unjung kulon. Sebagian besar waktu kami habiskan disini. Telur dan ikan tongkol digoreng dengan bumbu seadanya, mungkin hanya garam. Orang yang memasak juga bukan chef seperti di hotel-hotel berbintang, tapi hanyalah seorang anak buah kapal yang saat itu dipaksa memasak. Sederhana memang, tapi entah kenapa sungguh nikmat rasanya. Makan bersama di tengah kegelapan dengan hanya diterangi sebuah lampu minyak tanah. Makan sayapun sangat lahap. Memang ternyata kenikmatan tidak bisa diukur dari materi. Banyak orang hidup dalam kesederhanaan tapi justru bisa menikmati hidup jauh lebih baik dibandingkan orang yang hidup bergelimang kemewahan.
Selesai makan secara bergantian kami mandi. Biasnaya cewe-cewe mendapat kesempatan lebih dahulu. Tetapi saat itu saya, Indra dan Ratum tetap tinggal di kapal. Kami bertiga duduk-duduk di sisi kiri kapal. Dengan ditemani sebatang garpit kami pun ngobrol. Suasana malam itu memang tiada duanya. Duduk, diam, tidak mengerjakan apapun selain menatap laut yang sunyi. Pikiran sayapun sangat rileks. Tidak lagi terpikirkan bahwa saya tidak lulus kuliah analisis numerik dan medan elektromagnetik. Inilah yang dinamakan liburan sejati.
Pada malam hari tidak banyak yang bisa kami lakukan. Hal ini dikarenakan tidak ada apa-apa di Pulau Peucang. Apalagi listrik yang tersedia di sini sangat terbatas. Jangan kan untuk menyalakan sebuah televisi, untuk men-charge handphone saja sulit. Jam 8 malam disini terasa seperti jam 12 malam di Bandung, sudah sangat sepi dan sunyi. Malam itu akhirnya kami bermain kartu. Ratum yang menjadi juragan kartu memimpin permainan. Entah permainan apa yang dimainkan. Saya sendiri sangat cupu dalam hal kartu mengartu. Oleh karena itu saya putuskan untuk menyusul Asri yang telah tidur lebih dahulu.
Keesokan harinya kami bangun sekitar pukul setengah 5 pagi. Secara bergantian kamipun solat subuh. Entah mengapa solat subuh saya terasa lebih khusuk ketika itu. Suana pagi itu agak mendung. Hujan rintik-rintik masih berjatuhan dari langit. jika dilihat sekilas laut di depan sisi Pulau Peucang yang kami tinggali lebih mirip danau dibandingkan laut. Kita tidak akan bisa melihat garis cakrawala jika melihat ke laut, yang terlihat justru daratan Pulau Jawa. Pulau Jawa dan Pulau Peucang dipisahkan oleh sebuah selat yang sangat kecil. Lebarnya sekitar dua kali lipat sungai-sungai yang ada di Kalimantan. Mungkin ini sebabnya arus di sana cukup kencang. Sesuai hukum fisika, kecepatan fluida akan berbanding terbalik dengan luas penampang dengan sarat debitnya konstan. Menurut BapakTumina saat itu sedang mengalir arus laut dari utara ke selatan.
No comments:
Post a Comment